Impor Ilegal Harus Ditindak, T...
Impor Ilegal Harus Ditindak, Tapi Produk Impor Legal Murah Juga Harus Dikendalikan

Impor Ilegal Harus Ditindak, Tapi Produk Impor Legal Murah Juga Harus Dikendalikan

IPKB meminta pemerintah tidak hanya memberantas impor pakaian ilegal, tetapi juga memperhatikan produk impor legal berharga murah yang menekan IKM konveksi. Nandi Herdiaman mendorong koordinasi Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Bea Cukai untuk menciptakan kebijakan impor yang adil serta melindungi produsen dalam negeri dan ekosistem tekstil nasional.

Andi Rohandi
Andi Rohandi
Penulis
05 Oct 2026
Dipublikasi
3 menit
Waktu baca
42
Views

Oleh: Nandi Herdiaman – Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB)


Bandung, 5 Oktober 2026 — Sebagai pelaku industri dan Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), saya melihat persoalan impor pakaian jadi tidak bisa hanya dibatasi pada masalah barang ilegal. Impor ilegal memang harus diberantas. Itu jelas. Tetapi pemerintah juga perlu melihat persoalan produk pakaian impor yang masuk secara legal dengan harga sangat murah. Keduanya sama-sama dapat menekan keberlangsungan industri konveksi dan IKM dalam negeri.


Impor harus dilihat dari dua sisi.


Barang ilegal harus ditindak melalui Bea Cukai dan penegakan hukum. Tetapi barang yang masuk secara legal juga perlu dikendalikan apabila harga dan volumenya pada akhirnya membuat produk dalam negeri tidak mampu bersaing.


Saat ini pelaku IKM konveksi menghadapi persaingan harga yang semakin berat. Produk impor murah dengan mudah ditemukan di pasar, termasuk melalui marketplace. Kondisi ini membuat kami sebagai produsen lokal harus bersaing bukan hanya dengan sesama pengusaha dalam negeri, tetapi juga dengan produk impor yang memiliki struktur biaya dan skala produksi yang berbeda. Karena itu, persoalan impor tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan penindakan.


Jalur masuk barang memiliki karakter yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang berbeda pula.


Untuk barang ilegal, tentu diperlukan pengawasan dan penegakan hukum. Sementara untuk barang legal, pemerintah perlu memastikan kebijakan perdagangan tetap memberikan ruang bagi industri dalam negeri untuk tumbuh dan bertahan.

Di sinilah pentingnya koordinasi antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Bea Cukai.


Masing-masing harus menjalankan kewenangannya secara jelas. Jangan sampai ketika IKM menyampaikan persoalan impor ilegal, kami justru diarahkan dari satu instansi ke instansi lain yang sebenarnya bukan memiliki kewenangan utama untuk menangani persoalan tersebut.


Jangan Hanya Melihat Angka Perdagangan


Saya juga berharap pemerintah tidak hanya melihat keberhasilan perdagangan dari angka ekspor dan impor secara agregat.

Kita perlu melihat lebih jauh: barang yang beredar di pasar Indonesia itu sebenarnya produk siapa?


Perdagangan mungkin terlihat tumbuh. Marketplace mungkin mencatat transaksi yang besar. Tetapi kita harus bertanya, siapa yang memproduksi barang tersebut? Kalau semakin banyak barang yang dijual di pasar Indonesia merupakan produk impor, sementara produsen lokal semakin kehilangan pasar, maka ada persoalan struktural yang harus segera dibenahi.


Perdagangan yang tumbuh tidak akan banyak berarti jika produsen dalam negeri justru semakin tertekan.


Bagi kami di IKM konveksi, dampaknya juga tidak berhenti pada pengusaha jahit atau konveksi. Industri ini memiliki rantai yang panjang.

Ketika produk konveksi lokal kehilangan pasar, permintaan terhadap kain, benang, aksesori, jasa printing, dyeing, finishing, hingga tenaga kerja juga ikut terdampak. Artinya, melindungi pasar IKM konveksi pada akhirnya juga berarti menjaga ekosistem tekstil nasional.


Pemerintah Harus Melihat Produsen, Bukan Hanya Perdagangan

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua impor harus dihentikan. Indonesia tetap membutuhkan perdagangan internasional dan produk impor. Yang kami minta adalah kebijakan impor yang adil dan tidak membuat produsen dalam negeri kehilangan kesempatan untuk berkembang di pasar sendiri.


Barang ilegal harus diberantas.


Barang legal yang masuk dengan harga sangat murah dan berpotensi mematikan industri dalam negeri juga harus dikaji dan dikendalikan dengan instrumen kebijakan yang tepat. Jangan sampai kita sibuk mengejar target ekspor, sementara pasar dalam negeri justru dikuasai produk impor.


TPT Indonesia harus menjadi raja di negeri sendiri terlebih dahulu.

Kami di IPKB siap menjadi mitra pemerintah untuk memberikan data dan fakta lapangan mengenai kondisi IKM konveksi di berbagai sentra industri. Karena yang kami perjuangkan bukan sekadar kepentingan pengusaha konveksi.


Kami sedang mempertahankan tempat kerja, tenaga kerja, dan rantai industri yang selama ini hidup di tengah masyarakat.


Nandi Herdiaman

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB)

0 suka 0 bookmark 0 share

BAGIKAN

Diskusi (0)

Bagikan pemikiran dan tanya jawab tentang artikel ini.

Login untuk bergabung dalam diskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Akses Terbatas

Silakan masuk ke akun Anda atau mendaftar gratis untuk berinteraksi (menyukai, menyimpan, berkomentar) dengan konten eksklusif kami.

ARTIKEL TERKAIT

Lanjut baca.

PKB: Selama Ini Negara Hanya Punya Kurikulum Pabrik, Belum Punya Kurikulum IKM Padat Karya
Industri
04 Oct 2026 2 mnt baca 277 views 0 komentar

PKB: Selama Ini Negara Hanya Punya Kurikulum Pabrik, Belum Punya Kurikulum IKM Padat Karya

IPKB menilai pemerintah selama ini lebih banyak menyiapkan kurikulum untuk pabrik garmen, belum untuk karakter IKM konveksi yang padat karya dan mengerjakan produk secara utuh. Dengan jumlah IKM mencapai 99,79% industri, IPKB mendorong pemerintah membangun Kurikulum IKM Konveksi yang berorientasi pada keterampilan usaha dan penciptaan lapangan kerja. IPKB juga mengusulkan kerja sama sebagai Bapak Asuh Kurikulum IKM serta penerapan regulasi berjenjang.

PERNYATAAN RESMI IPKB - UCAPAN SELAMAT KEPADA MENTERI PERINDUSTRIAN RI
Industri
02 Oct 2026 3 mnt baca 271 views 0 komentar

PERNYATAAN RESMI IPKB - UCAPAN SELAMAT KEPADA MENTERI PERINDUSTRIAN RI

IPKB menyampaikan harapan agar kebijakan TPT lebih memperhatikan IKM hilir yang padat karya. IPKB mendorong regulasi berjenjang, perlindungan pasar domestik dari impor ilegal, revitalisasi sentra industri, kurikulum berbasis kebutuhan IKM, serta insentif untuk sektor hilir. IPKB juga siap menjadi mitra pemerintah dalam pendataan IKM, fasilitasi legalitas, sertifikasi halal, dan perlindungan tenaga kerja.

KAJIAN IPKB: POTRET TPT NASIONAL HULU-HILIR & ARAH REGULASI YANG ADIL UNTUK IKM
Industri
01 Oct 2026 4 mnt baca 526 views 0 komentar

KAJIAN IPKB: POTRET TPT NASIONAL HULU-HILIR & ARAH REGULASI YANG ADIL UNTUK IKM

Kajian IPKB menyoroti pentingnya perlindungan IKM sebagai tulang punggung industri tekstil dan penyerap tenaga kerja. Regulasi ketenagakerjaan perlu mempertimbangkan karakter IKM yang menghadapi order musiman, keterbatasan modal, serta persaingan produk impor. IPKB mengusulkan regulasi berjenjang, fleksibilitas kerja, penundaan sanksi berat, pengalihan insentif ke sektor hilir, serta kolaborasi pemerintah dan asosiasi untuk legalitas, halal, dan perlindungan pekerja.

Pencarian Terakhir

Populer Minggu Ini

Tidak ada hasil ditemukan

Tidak ada hasil untuk "". Coba kata kunci lainnya.