Industri Fashion Indonesia sedang menemukan jalan baru lewat layar ponsel. E-commerce kini bukan sekadar etalase digital, tetapi cara baru bagi penjahit, konveksi, dan pabrik tekstil menjangkau pembeli secara langsung. Dua tokoh industri asal Jawa Barat menyuarakan perubahan ini: Nandi Herdiaman, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), dan Ian Syarif dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API).
Kedua tokoh ini paham betul tekanan yang dihadapi pelaku usaha. Nandi menyebut sejak 2022 banyak anggota IPKB terpaksa menghentikan usaha karena kalah bersaing dengan produk impor murah, baik di pasar online maupun offline. Meski begitu, ia menegaskan pihaknya tidak anti impor dan meminta pemerintah memperhatikan produk lokal agar keduanya bisa berjalan beriringan. IPKB juga sudah lebih dulu bergerak: organisasi ini membekali anggotanya berjualan online dan menggandeng marketplace agar pelaku konveksi tetap bertahan di era digital.
Sementara itu, Ian Syarif, yang memimpin API Jawa Barat dan kini menjabat Wakil Ketua Umum API, melihat kunci menghadapi peredaran produk ilegal ada pada disrupsi rantai pasok. Dengan dukungan TikTok Indonesia, pelaku fesyen dalam negeri kini dapat menembus pasar langsung ke tangan pembeli, tanpa melewati rantai perantara dan pedagang yang panjang. Hasilnya adalah produk jadi yang kualitasnya lebih baik sekaligus harganya lebih terjangkau bagi konsumen.
Di tengah situasi itu, kami mengapresiasi TikTok Indonesia atas kolaborasi keanggotaan secara masif dan program TikTok Academy yang mengajarkan pelaku usaha berjualan secara digital. Pelatihan ini tidak hanya mendigitalkan industri fesyen. Ia juga memberi pelaku usaha dalam negeri senjata untuk menghadapi gempuran produk ilegal dan produk murah yang kian merajalela.
Kuncinya ada pada dua strategi: siaran langsung (live streaming) dan sistem pre-order. Lewat live streaming, pengusaha bisa menunjukkan bahan, jahitan, dan kualitas produk secara transparan, sehingga pembeli bisa membandingkan langsung barang lokal yang bermutu dengan barang murah yang tak jelas asalnya. Sistem pre-order membuat produksi mengikuti pesanan nyata. Stok tidak menumpuk, modal kerja lebih terjaga, dan pelaku IKM tidak perlu terjebak perang harga yang tidak sehat.
Jika dijalankan serentak, kami memperkirakan langkah ini dapat melahirkan wirausaha baru dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat Jawa Barat, mulai dari penjahit, pengawas mutu, tim pengemasan, hingga host live dan kreator konten. Digitalisasi memang bukan pengganti perlindungan pasar domestik. Namun bersama dukungan pemerintah yang menjaga persaingan tetap adil, e-commerce bisa membuat label "buatan Indonesia" kembali menjadi pilihan utama bangsanya sendiri.