Hal ini disampaikan Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) Nandi Herdiaman mengutip hasil kajian Bahan Baku & Daya Saing IKM TPT Indonesia.
"Selama ini orang kira IKM itu berdiri sendiri. Faktanya tidak. IKM umumnya bekerja sama dengan Industri Besar dan Sedang untuk memperoleh bahan baku dan menjalankan pesanan. Kami tidak bisa hidup tanpa industri besar
Pola kemitraan tersebut dijelaskan dalam skema: IKM/KONVEKSI yang fokus pada produksi, keterampilan, kualitas, dan ketepatan waktu, bermitra dua arah dengan INDUSTRI BESAR & SEDANG sebagai mitra bahan baku, spesifikasi, dan kesinambungan pesanan, untuk kemudian hasilnya mengalir ke PASAR sebagai produk jadi yang memenuhi kebutuhan pembeli.
"Jadi IKM itu hilirnya industri besar. Kalau hulunya seret bahan baku, hilirnya pasti mati," tegas Nandi.
Jangan Tutup Kekurangan Bahan Baku dengan Impor Baju Jadi
Poin paling penting dari riset tersebut, menurut Nandi, adalah soal solusi bahan baku.
Jika bahan baku dinilai belum mencukupi, prioritas solusi adalah perkuat rantai pasok TPT nasional — bukan hanya menutup kekurangan melalui impor barang jadi yang tidak berfungsi sebagai bahan baku.
"Ini tamparan keras untuk kebijakan impor selama ini. Kalau pabrik kain kekurangan benang, solusinya datangkan benang, bukan datangkan baju jadi impor Rp 10.000 yang langsung bunuh IKM kami. Baju jadi impor tidak berfungsi sebagai bahan baku, tapi berfungsi sebagai pembunuh IKM," kata Nandi.
Nandi mendukung penuh rencana pemerintah membentuk BUMN Tekstil sebagai upaya penguatan rantai pasok TPT nasional di hulu.
Empat Dukungan Pemerintah yang Diminta IKM
Riset tersebut juga merumuskan Empat Dukungan Pemerintah untuk IKM yang Lebih Tangguh. Menurut riset, penguatan IKM perlu berjalan seiring dengan pengamanan rantai pasok dan peningkatan kompetensi tenaga kerja.
Keempat dukungan tersebut adalah:
1. Pengamanan & Penguatan Rantai Pasok
Pastikan ketersediaan bahan baku dan dorong pemanfaatan impor sesuai kebutuhan produksi. Jangan impor baju jadi.
2. Regulasi Pro-Daya Tahan dan Daya Saing
Bangun kepastian usaha, kemitraan yang sehat, dan ruang tumbuh bagi IKM. Jangan biarkan IKM adu jotos dengan barang impor ilegal di e commerce dan Tanah Abang.
3. Kurikulum Sesuai Kebutuhan Industri
Selaraskan materi pelatihan dengan kebutuhan saat ini serta perkembangan teknologi dan pasar masa depan. Ini yang selama ini IPKB teriakkan: *Jangan cetak SDM pabrik besar untuk IKM. Beda spesies.*
4. Tempat Pelatihan Dekat Sentra Industri
Perluas akses upskilling/reskilling agar pekerja dapat berlatih tanpa terpisah jauh dari pusat industri. Jangan pelatihan di kota, tapi di gang sentra. Rekrut Lokal, Latih Lokal, Kerja Lokal.
Indonesia Paling Lengkap di Asia Tenggara
Indonesia memiliki ekosistem TPT yang terintegrasi dan sangat lengkap di Asia Tenggara; penguatannya perlu diprioritaskan agar nilai tambah dan lapangan pekerjaan tumbuh di dalam negeri.
"Ini modal kita. Dari serat, benang, kain, sampai baju jadi, kita punya semua. Tidak ada di Vietnam, tidak ada di Bangladesh. Mereka hanya punya jahitnya saja. Kita punya hulunya. Sayang kalau ekosistem terlengkap ini dihancurkan hanya karena kita malas perkuat rantai pasok dan malah pilih impor baju jadi," tutup Nandi.
Laporkan komentar ini jika melanggar ketentuan komunitas: