FAKTA LAPANGAN IKM: MAU BANGKI...
FAKTA LAPANGAN IKM: MAU BANGKIT TAPI TERJEPIT

FAKTA LAPANGAN IKM: MAU BANGKIT TAPI TERJEPIT

IKM konveksi menghadapi tantangan berupa order tidak stabil, keterbatasan modal, dampak pandemi dan impor ilegal, serta kekurangan tenaga kerja terampil. Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, mendorong pemerintah turun langsung ke sentra IKM. IPKB mengusulkan pemutihan BI Checking bagi IKM terdampak, akses modal kerja tanpa agunan, serta kurikulum pelatihan khusus IKM konveksi untuk memulihkan usaha dan membuka lapangan kerja.

Andi Rohandi
Andi Rohandi
Penulis
12 Oct 2026
Dipublikasi
2 menit
Waktu baca
74
Views

Oleh Nandi Herdiaman - Ketua Umum IPKB


1. Order Masih Turun Naik

Fakta di Soreang, Majalaya, Kopo, Garut, Tasik: order tidak stabil. Hari ini 50 pcs, besok sepi. Karakter IKM beda dengan pabrik besar. Pabrik besar kontrak ribuan pcs per bulan. IKM 1 orang 1 baju jadi 3 hari, 20-30 model ganti setahun. Akibatnya cashflow berantakan, tidak bisa rekrut tetap.


2. IKM Sulit Kerjasama dengan Perbankan

Bank minta agunan, laporan keuangan rapi, dan order tetap. Padahal 96,5% UMKM belum punya laporan keuangan. IKM tahunya buku tulis. Akhirnya banyak IKM lari ke tengkulak dan paylater bunga tinggi.


3. Luka Lama: Covid + Barang Murah Ilegal

Banyak IKM gulung tikar pasca Covid dan gempuran barang murah ilegal yang jual 10-19x lebih murah. Kalah saing, stok numpuk, utang numpuk. Akhirnya kredit macet, BI Checking jelek, masuk blacklist.


4. Mau Bangkit Tapi Tidak Dipercaya

Sekarang mau bangkit, perbankan dan investor tidak percaya lagi. Butuh modal kecil Rp 10-20 juta untuk beli kain saja ditolak karena histori macet 2023. Padahal IKM ini tulang punggung lapangan kerja. Bukan malas, tapi luka lama belum sembuh.


5. Anomali: Pengangguran Banyak, Tapi Susah Cari Tukang Jahit

Ini aneh tapi nyata. Pengangguran banyak, tapi IKM susah cari pekerja spesialis. Kenapa? Puluhan tahun program pemerintah hanya ada kurikulum untuk pabrik besar garmen. Sistem pecah proses: 1 orang 1 mesin, jahit kerah saja sebulan. Karakter IKM jauh berbeda: sistem whole garment, 1 orang 1 baju jadi. Jadi lulusan BLK pabrik masuk IKM tidak nyambung, harus latih dari nol. Di Soreang butuh tukang gamis, Majalaya butuh sarung, Garut butuh jaket. Kebutuhan beda, tapi kurikulum disamaratakan. Ini PR bersama: bagaimana IKM mau naik kelas kalau SDM jahit saja butuh waktu dan biaya banyak melatih dari nol?


6. Harapan: Pemerintah Turun ke Gang

Berharap pemerintah turun tangan melihat kondisi IKM di lapangan. Jangan hanya lihat data di atas kertas. Turun ke gang Jelekong, Nangewer Soreang, Limbangan Garut.


Usulan IPKB simpel:


a. Pemutihan BI Checking untuk IKM padat karya terdampak Covid & impor ilegal. Beri modal kerja Rp 10-25 juta tanpa agunan.

b. Rekrut calon pekerja sesuai kebutuhan IKM & programkan SDM di sekitar pelaku IKM. Kurikulum khusus IKM, bukan pabrik besar. Negara hadir di gang, jadi IKM tidak latih dari nol dengan biaya sendiri.


IKM tidak butuh bantuan besar. IKM butuh kepercayaan lagi, modal kecil untuk muter, dan SDM yang sesuai karakternya.



Nandi Herdiaman

Ketua Umum IPKB

0 suka 0 bookmark 0 share

BAGIKAN

Diskusi (0)

Bagikan pemikiran dan tanya jawab tentang artikel ini.

Login untuk bergabung dalam diskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Akses Terbatas

Silakan masuk ke akun Anda atau mendaftar gratis untuk berinteraksi (menyukai, menyimpan, berkomentar) dengan konten eksklusif kami.

ARTIKEL TERKAIT

Lanjut baca.

Daya Saing IKM Sangat Bergantung pada Kemitraan dan Pasokan Bahan Baku
Industri
28 Oct 2026 3 mnt baca 221 views 2 komentar

Daya Saing IKM Sangat Bergantung pada Kemitraan dan Pasokan Bahan Baku

Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, menegaskan bahwa daya saing IKM konveksi bergantung pada kemitraan industri dan ketersediaan bahan baku. IPKB mendorong pemerintah memperkuat rantai pasok tekstil nasional, bukan menutup kekurangan bahan baku dengan impor pakaian jadi. Empat prioritas yang diusulkan meliputi penguatan rantai pasok, regulasi pro-daya saing, kurikulum pelatihan sesuai kebutuhan IKM, serta pelatihan di sentra industri untuk memperkuat tenaga kerja dan lapangan kerja lokal.

IKM PENYERAP TENAGA KERJA TERBESAR, TAPI PULUHAN TAHUN TAK PERNAH DAPAT KURIKULUM SDM YANG COCOK
Industri
21 Oct 2026 3 mnt baca 464 views 0 komentar

IKM PENYERAP TENAGA KERJA TERBESAR, TAPI PULUHAN TAHUN TAK PERNAH DAPAT KURIKULUM SDM YANG COCOK

Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, menyoroti ketidaksesuaian kurikulum pelatihan menjahit pemerintah dengan kebutuhan IKM konveksi yang padat karya. Jika pabrik membutuhkan penjahit spesialis, IKM membutuhkan tenaga kerja yang mampu membuat pakaian secara utuh. IPKB mengusulkan Sekolah IKM Konveksi dengan kurikulum whole garment, instruktur berpengalaman, dan pelatihan berbasis kebutuhan sentra industri agar mampu mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil dan memperluas lapangan kerja.

Dari Sentra Konveksi ke Layar Ponsel: E-Commerce Mendigitalkan Fesyen Indonesia
Industri
08 Oct 2026 2 mnt baca 414 views 0 komentar

Dari Sentra Konveksi ke Layar Ponsel: E-Commerce Mendigitalkan Fesyen Indonesia

Digitalisasi e-commerce membuka peluang baru bagi industri fesyen Indonesia, khususnya penjahit dan IKM konveksi, untuk menjangkau konsumen secara langsung. IPKB mendorong pemanfaatan marketplace, live streaming, dan sistem pre-order agar pelaku usaha dapat meningkatkan daya saing, menjaga modal, dan mengurangi risiko stok. Kolaborasi digital juga berpotensi menciptakan wirausaha baru serta lapangan kerja di Jawa Barat, sekaligus memperkuat pilihan konsumen terhadap produk buatan Indonesia.

Pencarian Terakhir

Populer Minggu Ini

Tidak ada hasil ditemukan

Tidak ada hasil untuk "". Coba kata kunci lainnya.