Oleh Nandi Herdiaman - Ketua Umum IPKB
1. Order Masih Turun Naik
Fakta di Soreang, Majalaya, Kopo, Garut, Tasik: order tidak stabil. Hari ini 50 pcs, besok sepi. Karakter IKM beda dengan pabrik besar. Pabrik besar kontrak ribuan pcs per bulan. IKM 1 orang 1 baju jadi 3 hari, 20-30 model ganti setahun. Akibatnya cashflow berantakan, tidak bisa rekrut tetap.
2. IKM Sulit Kerjasama dengan Perbankan
Bank minta agunan, laporan keuangan rapi, dan order tetap. Padahal 96,5% UMKM belum punya laporan keuangan. IKM tahunya buku tulis. Akhirnya banyak IKM lari ke tengkulak dan paylater bunga tinggi.
3. Luka Lama: Covid + Barang Murah Ilegal
Banyak IKM gulung tikar pasca Covid dan gempuran barang murah ilegal yang jual 10-19x lebih murah. Kalah saing, stok numpuk, utang numpuk. Akhirnya kredit macet, BI Checking jelek, masuk blacklist.
4. Mau Bangkit Tapi Tidak Dipercaya
Sekarang mau bangkit, perbankan dan investor tidak percaya lagi. Butuh modal kecil Rp 10-20 juta untuk beli kain saja ditolak karena histori macet 2023. Padahal IKM ini tulang punggung lapangan kerja. Bukan malas, tapi luka lama belum sembuh.
5. Anomali: Pengangguran Banyak, Tapi Susah Cari Tukang Jahit
Ini aneh tapi nyata. Pengangguran banyak, tapi IKM susah cari pekerja spesialis. Kenapa? Puluhan tahun program pemerintah hanya ada kurikulum untuk pabrik besar garmen. Sistem pecah proses: 1 orang 1 mesin, jahit kerah saja sebulan. Karakter IKM jauh berbeda: sistem whole garment, 1 orang 1 baju jadi. Jadi lulusan BLK pabrik masuk IKM tidak nyambung, harus latih dari nol. Di Soreang butuh tukang gamis, Majalaya butuh sarung, Garut butuh jaket. Kebutuhan beda, tapi kurikulum disamaratakan. Ini PR bersama: bagaimana IKM mau naik kelas kalau SDM jahit saja butuh waktu dan biaya banyak melatih dari nol?
6. Harapan: Pemerintah Turun ke Gang
Berharap pemerintah turun tangan melihat kondisi IKM di lapangan. Jangan hanya lihat data di atas kertas. Turun ke gang Jelekong, Nangewer Soreang, Limbangan Garut.
Usulan IPKB simpel:
a. Pemutihan BI Checking untuk IKM padat karya terdampak Covid & impor ilegal. Beri modal kerja Rp 10-25 juta tanpa agunan.
b. Rekrut calon pekerja sesuai kebutuhan IKM & programkan SDM di sekitar pelaku IKM. Kurikulum khusus IKM, bukan pabrik besar. Negara hadir di gang, jadi IKM tidak latih dari nol dengan biaya sendiri.
IKM tidak butuh bantuan besar. IKM butuh kepercayaan lagi, modal kecil untuk muter, dan SDM yang sesuai karakternya.
Nandi Herdiaman
Ketua Umum IPKB