IKM PENYERAP TENAGA KERJA TERB...
IKM PENYERAP TENAGA KERJA TERBESAR, TAPI PULUHAN TAHUN TAK PERNAH DAPAT KURIKULUM SDM YANG COCOK

IKM PENYERAP TENAGA KERJA TERBESAR, TAPI PULUHAN TAHUN TAK PERNAH DAPAT KURIKULUM SDM YANG COCOK

Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, menyoroti ketidaksesuaian kurikulum pelatihan menjahit pemerintah dengan kebutuhan IKM konveksi yang padat karya. Jika pabrik membutuhkan penjahit spesialis, IKM membutuhkan tenaga kerja yang mampu membuat pakaian secara utuh. IPKB mengusulkan Sekolah IKM Konveksi dengan kurikulum whole garment, instruktur berpengalaman, dan pelatihan berbasis kebutuhan sentra industri agar mampu mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil dan memperluas lapangan kerja.

Andi Rohandi
Andi Rohandi
Penulis
21 Oct 2026
Dipublikasi
3 menit
Waktu baca
465
Views

Bandung — Ada fakta yang luput dari pengambil kebijakan di pusat dan daerah. Industri Kecil Menengah (IKM) konveksi adalah penyerap tenaga kerja paling banyak, namun justru paling minim mendapat perhatian dari sisi kebutuhan SDM.


Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) Nandi Herdiaman menegaskan, selama puluhan tahun program dan anggaran besar digelontorkan untuk penyediaan SDM, namun kurikulumnya selalu mengacu ke pabrik besar, bukan IKM.


"Ada IKM yang kurang diketahui sama pengambil kebijakan pemerintah, bahwa IKM itu paling banyak menyerap tenaga kerja. Di Kabupaten Bandung saja, satu gang di Majalaya bisa serap 200-300 pekerja. Satu desa bisa ribuan. Kalau ditotal se-Kabupaten, IKM konveksi serap puluhan ribu tenaga kerja, mayoritas ibu-ibu rumah tangga," ungkap Nandi.


"Tetapi selama ini kurang mendapat perhatian dari segi kebutuhan SDM. Pemerintah selalu mengacu ke pabrik besar, padahal karakter IKM jauh berbeda," tegasnya.


BEDA TOTAL: PABRIK BUTUH SPESIALIS TUSUKAN, IKM BUTUH SPESIALIS BAJU JADI


Nandi menjelaskan, perbedaan karakter ini yang membuat program pemerintah tidak nyambung.


"Pabrik besar butuh penjahit spesialis. 1 orang 1 mesin, 1 tugas. Hari ini sampai pensiun jahit kerah saja. Kebutuhan SDM penjahit untuk IKM harus spesialis harus menguasai bikin baju jadi. 1 orang harus bisa potong, jahit, obras, sampai jadi 1 gamis utuh. Ini beda spesies," jelasnya.


Menurutnya, lulusan BLK garmen yang diajarkan sistem line pabrik, ketika masuk ke IKM tidak bisa dipakai. Disuruh bikin 1 baju jadi dari 0, bingung. Disuruh ganti model gamis ke hijab, tidak bisa. Maunya digaji bulanan UMK, sementara IKM sistemnya borongan.


"Akhirnya anomali: Pengangguran banyak, tapi IKM teriak kekurangan tukang jahit. Karena SDM yang dicetak tidak sesuai kebutuhan IKM," kata Nandi.


PULUHAN TAHUN DANA DIGELONTORKAN, IKM MINTA KEADILAN KURIKULUM


Nandi menyoroti, selama puluhan tahun program pelatihan penjahit selalu ada dan dana digelontorkan, namun IKM tidak pernah kebagian yang sesuai.


"Selama puluhan tahun program selalu ada, dana digelontorkan untuk penyediaan SDM. Tapi coba cek, kurikulumnya untuk siapa? Untuk pabrik besar. Untuk IKM kapan?" tanyanya.


"Kami pelaku usaha IKM minta keadilan. Adakan program dengan kurikulum sesuai kebutuhan IKM. Jangan paksa IKM pakai sepatu pabrik besar. Kekecilan, tidak muat," tegas Nandi.


SOLUSI IPKB: SEKOLAH IKM, BUKAN BLK GARMEN


Sekolah IKM Konveksi — Kurikulum Whole Garment:

Lokasi di gang sentra, bukan di gedung pemerintah

Instruktur tukang jahit senior Jelekong 20 tahun, bukan dosen teori

Lulusan wajib bisa 1 orang 1 baju jadi dalam 3 hari

Sistem kerja borongan, fleksibel, bisa bawa anak sesuai karakter IKM


"Kami tidak anti program pemerintah. Kami hanya minta keadilan. Kalau 97% tenaga kerja diserap UMKM/IKM secara nasional, seharusnya 97% anggaran pelatihan SDM juga untuk kurikulim IKM bukan sebaliknya


Ketua Umum IPKB

Nandi Herdiaman

0 suka 0 bookmark 0 share

BAGIKAN

Diskusi (0)

Bagikan pemikiran dan tanya jawab tentang artikel ini.

Login untuk bergabung dalam diskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Akses Terbatas

Silakan masuk ke akun Anda atau mendaftar gratis untuk berinteraksi (menyukai, menyimpan, berkomentar) dengan konten eksklusif kami.

ARTIKEL TERKAIT

Lanjut baca.

Daya Saing IKM Sangat Bergantung pada Kemitraan dan Pasokan Bahan Baku
Industri
28 Oct 2026 3 mnt baca 222 views 2 komentar

Daya Saing IKM Sangat Bergantung pada Kemitraan dan Pasokan Bahan Baku

Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, menegaskan bahwa daya saing IKM konveksi bergantung pada kemitraan industri dan ketersediaan bahan baku. IPKB mendorong pemerintah memperkuat rantai pasok tekstil nasional, bukan menutup kekurangan bahan baku dengan impor pakaian jadi. Empat prioritas yang diusulkan meliputi penguatan rantai pasok, regulasi pro-daya saing, kurikulum pelatihan sesuai kebutuhan IKM, serta pelatihan di sentra industri untuk memperkuat tenaga kerja dan lapangan kerja lokal.

FAKTA LAPANGAN IKM: MAU BANGKIT TAPI TERJEPIT
Industri
12 Oct 2026 2 mnt baca 74 views 0 komentar

FAKTA LAPANGAN IKM: MAU BANGKIT TAPI TERJEPIT

IKM konveksi menghadapi tantangan berupa order tidak stabil, keterbatasan modal, dampak pandemi dan impor ilegal, serta kekurangan tenaga kerja terampil. Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, mendorong pemerintah turun langsung ke sentra IKM. IPKB mengusulkan pemutihan BI Checking bagi IKM terdampak, akses modal kerja tanpa agunan, serta kurikulum pelatihan khusus IKM konveksi untuk memulihkan usaha dan membuka lapangan kerja.

Dari Sentra Konveksi ke Layar Ponsel: E-Commerce Mendigitalkan Fesyen Indonesia
Industri
08 Oct 2026 2 mnt baca 414 views 0 komentar

Dari Sentra Konveksi ke Layar Ponsel: E-Commerce Mendigitalkan Fesyen Indonesia

Digitalisasi e-commerce membuka peluang baru bagi industri fesyen Indonesia, khususnya penjahit dan IKM konveksi, untuk menjangkau konsumen secara langsung. IPKB mendorong pemanfaatan marketplace, live streaming, dan sistem pre-order agar pelaku usaha dapat meningkatkan daya saing, menjaga modal, dan mengurangi risiko stok. Kolaborasi digital juga berpotensi menciptakan wirausaha baru serta lapangan kerja di Jawa Barat, sekaligus memperkuat pilihan konsumen terhadap produk buatan Indonesia.

Pencarian Terakhir

Populer Minggu Ini

Tidak ada hasil ditemukan

Tidak ada hasil untuk "". Coba kata kunci lainnya.